Translate

Jumat, 07 Februari 2014

Murry Koes Plus , Satu Lagi Legenda Musik Indonesia Meninggalkan Kita

Walaupun agak terlambat tapi saya tulis juga...

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..Murry - drummer Koes Plus meninggal dunia 1 Februari 2014. Kematian ini bagi pecinta Koesplus khususnya JN Pekalongan sangat mengagetkan. Betapa tidak? Tiga hari sebelum meninggal Murry ditemani dua anaknya Anggi dan Rico berkunjung ke Pekalongan untuk konser dan menemui penggemar Koesplus yang diwadahi dalam Jiwa Nusantara cabang Pekalongan.
Penampilan sang legenda tiga hari sebelum meninggal

Selama di Pekalongan Murry sebetulnya sangat ingin berjumpa dengan Komunitas Goedang Djadoel yaitu komunitas kajian dan budaya di Pekalongan. Karena Murry sangat terkesan dengan Goedang Djadoel yang selama ini telah sukses menyelenggarakan pementasan Musik maupun Budaya, yang melibatkan Bpk. Taufik Ismail, Anis Baswedan, Hakam Naja, Inne Febriyanti. Sayangnya Murry harus kecewa, karena dari pihak pengundang tidak mengijinkan Murry untuk menemui penggemarnya di tempat lain (Goedang Djadoel) INFO INI TELAH DIKLARIFIKASI OLEH PIHAK PENYELENGGARA BAHWA PIHAK MURRY YANG TIDAK MAU DATANG KECUALI KE TEMPAT DIMANA DIA DIUNDANG - KARENA USIA LANJUT DAN TAKUT KELELAHAN APABILA MENGISI ACARA TERLALU BANYAK DALAM SATU HARI.


Sedikit infio tentang Goedang Djadoel.

Goedang Djadoel juga pernah mementaskan lagu lagu Koesplus dengan mengusung tema Go-Green pada waktu hari Bumi Sedunia, dimana dalam pementasan tersebut beberapa band dari Semarang, Pemalang, Tegal, dan tentu saja dari Kota dan Kabupaten Pekalogan. Semua band ini diwajibkan membawakan lagu lagu Koesplus yang bertema Alam, seperti lagu Desaku, Padang Luas, HUujan Angin, Kolam susu, Nusantara dll. Dalam pembicaraan seminggu sebelum ke Pekalongan Murry sangat senang diundang ke Goedang Djadioel dan merasa "dihormati" karena di tempat ini juga pernah diadakan pementasan "Mengenang Tony Koeswoyo" sahabat beliau. Bahkan akhirnya Goedang Djadoel bernencana mementasakan kembali acara Mengenang Tony Koeswoyo ini dengan mengundang Murry, Yok dan Yon bersama sama tanggal 27 Maret 2014. .Rencana tinggallah rencana, tapi Allah berkehendak lain.
Selamat Jalan Bapk Murry, semoga engkau diberi tempat terbaik disisi sang Maha Pencipta.

salam,

Rabu, 05 Februari 2014

Pahama Group (Vocal Group Terbaik Sepanjang Masa)

Pada dekade 70-an, sebagian besar remaja Indonesia tengah keranjingan membentuk vokal grup. Demam vokal grup melanda siswa SMP dan SMA. Berbagai ajang festival vokal group akhirnya diadakan di berbagai tempat. Tembang-tembang yang dibawakan biasanya adalah lagu-lagu tradisional maupun lagu rakyat atau yang kerap disebut folk song.
Kecenderungan rata-rata vokal grup yang ada saat itu terletak pada tata aransemen vokal yang senantiasa dibuat complicated dan sarat pernah pernik. Hingga terkadang melodi orisinal dari lagu yang dibawakan menjadi sulit untuk dikenali lagi.
Saat itu grup-grup vokal jazz seperti The Manhattan Transfer hingga Sergio Mendes menjadi acuan dalam sederet kegiatan vokal grup. Tak jarang pula yang menyelusupkan perangai musik Latin, seperti yang ditorehkan kelompok Bimbo.
Harmoni vokal akhirnya menjadi bahagian terpenting dalam vokal group. Pecahan-pecahan nada pun menjadi tuntutan untuk sebuah vokal grup yang berkualitas. Selain Bimbo, saat itu pun dikenal pula kelompok vokal yang cenderung nge-jazz, seperti Noor Bersaudara.

Pahama di Jazz Goes To Campus Universitas Indonesia
Bintang radio & TV
Lantaran begitu menjamurnya kegiatan vokal grup yang berlangsung dari Sabang hingga Merauke, akhirnya muncullah sebuah ajang yang kemudian memasukkan vokal grup sebagai salah satu bagian dari ajang kompetisi vokal.
Pada tahun 1976, untuk kali pertama digelar ajang kompetisi bertajuk Bintang Radio dan Televisi Remaja. Konon, acara ini diadakan untuk lebih menjaring bakat-bakat seni suara dari kalangan anak remaja. Pada akhirnya ajang Bintang Radio & Televisi Remaja 1976 ini memang berhasil menjala sosok penyanyi yang kelak menjadi bagian terpenting dalam konstelasi musik pop di negeri tercinta ini.
Lalu mencuatlah Harvey Malaiholo sebagai Juara 1 Remaja Pria, Rafika Duri sebagai Juara 1 Remaja Wanita, dan Pahama sebagai Juara 1 Vokal Grup. Pahama yang berasal dari Bandung memang pantas didapuk menjadi juara 1. Mereka menyimpan kualitas musik yang lebih dibanding para kontestan lainnya. Arransemen dan harmoni vokal Pahama memang terasa lebih kontekstual dan wajar. Tidak mengada ada.
Dalam Bintang Radio & TV Remaja itu, Pahama yang terdiri dari Raymond Patirane, Denny Hatami, Bram Manusama, dan I Ketut Riwin, membawakan lagu Pergi untuk Kembali karya Minggoes Tahitu, yang berhasil menjadi Juara 1 Festival Lagu Pop Indonesia 1975, dan sebuah lagu rakyat Maluku bertajuk Waktu Hujan Sore-sore.
Penampilan Pahama yang segar, santai, dan seolah tanpa beban berhasil memukau khalayak. Kekompakan dalam mengolah vokal adalah modal utama kelompok yang pemusiknya terdiri dari beragam suku bangsa, seperti Maluku, Sunda, dan Bali.
Menjamur
Kelompok Pahama dibentuk tahun 1975, di saat Bandung tengah diriuhkan dengan menjamurnya kelompok-kelompok vokal, seperti Double SB, GPL Unpad, Stairway, Mythos, Kharisma Vokal Group, Nobo, dan yang telah mencuat sejak akhir era 1960-an, Bimbo.
Jika Pahama cepat melejit dan dikenal luas, tak perlu diherankan. Mungkin, karena kelompok ini didukung sederet pemusik yang kreatif dan penuh bakat. Raymond Pattirane, misalnya, memang dibesarkan dari keluarga pemusik. John Pattirane, sang ayah, merupakan sosok yang membina dan mengarahkan tata musik, terutama harmonisasi vokal kelompok Bimbo.
Kekerabatan antara Pahama dan Bimbo pun kian erat. Apalagi, ketika Pahama berhasil menjuarai Bintang Radio & TV Remaja bidang Vokal Group, Bimbo telah mengamati secara seksama sepak terjang Pahama. Pada akhirnya Bimbo pun bersedia menggarap produksi album perdana Pahama pada tahun 1977 melalui label Bimbo Recording System. Jaka Harjakusumah dari Bimbo terlibat sebagai penggarap tata musik Pahama. Jaka pun ikut menyumbangkan lagu Nelayan Tua untuk album Pahama.
Di album ini, selain menulis lagu-lagu sendiri, seperti Dari Judul (Denny Hatami),Cinta dan Bahagia (Bram Manusama), dan Oplet Dago (Raymond Patirane), Pahama pun menyanyikan kembali hit karya Minggoes Tahitu yang dipopulerkan Melky Goeslaw pada tahun 1975, Pergi Untuk Kembali, di samping lagu-lagu rakyat, semisal Waktu Hujan Sore-sore.
Karya sendiri
Setahun berselang Pahama merilis album keduanya di Musica Studio, mereka tetap membawakan lagu karya sendiri dan lagu-lagu rakyat. Untuk pertamakali di album keduanya, Pahama menambah formasinya dengan seorang penyanyi wanita bernama Dianne Carruthers yang berasal dari Australia. Dianne merupakan kekasih dari Bram Manusama. Keduanya, Bram dan Dianne, bahkan sempat merilis sebuah album duet yang menyanyikan lagu-lagu karya Jimmie Manoppo, Oetje F Tekol, dan Yance Manusama.
Di tahun 1978, Bram dan Dianne diajak oleh Chris Manuel Manusama, abang Bram yang pernah mendukung grup rock, Tripod dan Hookerman, untuk menyanyikan lagu ciptaannya, Kidung, yang berhasil masuk 10 besar dalam ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1978.
Di awal 1980-an, pasangan Bram Manusama dan Dianne Carruthers yang telah resmi menikah sebagai sepasang suami-isteri mengundurkan diri dari Pahama. Mereka lalu bermukim di negeri Kangguru. Kemudian Pahama sering berkolaborasi dengan mantan Puteri Indonesia, Tika Bisono, baik di panggung pertunjukan maupun rekaman.
Satu persatu personel Pahama mulai mundur, seperti gitaris, Ketut Riwin, yang memilih tinggal di Bali. Riwin mengelola sebuah kafe di Legian Bali. Sejak itulah nama Pahama secara perlahan mulai meredup dan menghilang. Pahama sempat tampil bersama Tika Bisono dalam album kemanusiaan bertajuk Suara Persaudaraan (1986) yang digagas komposer James F Sundah.
Raymond Patirane tetap menggeluti musik sebagai guru vokal dan penata vokal di berbagai album rekaman. Ketut Riwin pun tetap bermain musik. Riwin yang nama lengkapnya IGN Ketut Riwiyana, membentuk sebuah grup jazz dengan latar etnik bernama Tropical Transit pada tahun 1991. Kelompok ini masih tetap aktif manggung. Bahkan, salah satu karya Riwin dipakai dalam proyek kolaborasinya dengan perancang busana Ika Mardiana dan penari, I Nyoman Sura, pada event Hong Kong Fashion Week 2006 yang bertemakan Java
DISKOGRAFI
1. Pahama Vol 1 (Bimbo Recording System 1977)
2.Pahama Vol 2 (PT Musica Studios 1978)
Album Duet
1.Bram & Dianne, Kisah (PT Musica Studios 1979)
2.Denny Hatami & Tika Bisono, Engkau Cintaku (Paragon Record 1983)
Album Kompilasi
1.Dasa Tembang Tercantik LCLR 1978 (Duba Records 1978)
2.Dasa Tembang Tercantik LCLR 1979 (Duba Records 1979)
3.Dasa Tembang Tercantik LCLR 1981 (Lolypop Record 1981)
4.Suara Persaudaraan (Aquarius 1986)
Tulisan ini dimuatdi Harian Republika Senin, 06 Agustus 2007


Yang paling saya suka adalah album ini:

Pahama Group - Vol 2


01 Adakah Cintamu
02 Entah Kapan
03 Tukang Copet
04 Senandung
05 Dibalik Selaput Harapan
06 Lagu Lagu Rakyat
07 Hilang Dan Tiada
08 Sang Kelana
09 Soino
10 Dia Lebih Baik
11 Narapidana
12 Keinginan
13 Jangan Lupakan
14 Malu Dan Terhina
15 Manusia
16 Wanita
17 Angin Laut
18 Sesal Akan Dosa

Kalau anda ingin download lagunya komplit dalam format mp3@320Kbps dan dikompres dalam file winrar, silakan download disini:

Vol-1 : http://www.mediafire.com/?r89dapjc5b92t3j
Vol-2 : http://www.mediafire.com/?71raci8w4tfp6o5

Lucifer - House For Sale (1975)

Setiap mendengarkan lagu ini saya teringat masa kecil. Betapa sedihnya lagu ini, walaupun waktu itu saya tidak tahu sama sekali ini lagu tentang apa?

Jethro Tull - Thick as a Brick full

Salah satu lagu favourites saya adalah THick As A Brick - Jethro tull. Suara flutenya sangat indah...




Genesis

Saya penggemar berat Genesis. Sampai sampai kemanapun cockpit manggung saya ikuti, itu dulu tahun 2000an, sekarang karena saya sudah pindah dari Jakarta tidak tahu lagi kiprah band Genesis KW itu.

Rony Harahap - Tony Banks
Oding Nasution - Steve Hackkett
Raidy Noor - Mike Rutherford
Yaya Muktio - Phil Collins
Ari - Peter Gabriel. (sebelumnya Freddy Tameala )

Kemampuan Cockpit band membawakan lagu lagu Genesis lumayan bagus, hanya sayang sering soundnya kedodoran.

Selasa, 07 Januari 2014

Rokok

Sejak saya mengatakan "Lu Gue..END...!" sama rokok lima tahun yang lalu (2008) saya jadi sangat benci sama itu barang. Celakanya saya juga benci sama perokok, apalagi yang merokok di tempat umum. Perokok memang egois, walaupun mengganggu orang lain tapi tidak merasa bersalah.

Di setiap acara kenduri, rapat RT/RW atau bahkan di pengajian saya salalu menjumpai orang yang merokok sambil mendengarkan ceramah di masjid. Celakanya hampir semua pengurus masjid adalah perokok. Jadi sering dalam rapat takmir masjid, mereka merokok di masjid. Aneh, padahal Majelis Ulama Indonesia yang merupakan para pakar agama Islam telah menFATWAkan bahwa merokok hukumnya HARAM, mereka para perokok dengan tenangnya tetap merokok, seolah olah fatma MUI itu tidak berpengaruh sama sekali. Sebulan setelah MUI organisasi Muhammadiyah juga mengeluarkan fatwa bahwa merokok hukumnya HARAM...tapi pengerus ranting Muhammadiyah tetangga saya dengan tenangnya pal pul pal pul merokok di masjid. na'udzubillahi min dzalik...!!!

bersambung...

Pementasan Badai Pasti Berlalu Oleh Guoedang Djadoel Band

Di Pekalongan ada tempat bekas pranggok (untuk proses pembuatan batik) kira kira berukuran lebar 8 x 20 meter persegi, yang di sulap bak Cafe yang unik dan cantik. Di beberapa tembok dihiasi dengan gitar gitar yang digantung, Roda pedati kuno, Bass akusti besar tinggi 2 meter dan beberapa foto orang orang yang pernah main di tempat itu.

Saya melihat ada foto Pak Taufik Ismail, Yok Koeswoyo, Inne Febrianti, Anis Baswedan dan beberapa yang lain tergantung di sisi tembok. Ada juga sisi tembok yang rerkelupas dan berlobang dibiarkan dengan batu bata yang ekspos apa adanya. Di bagian atas dipasang lampu lampu yang diberi kap dari anyaman bambu..kalau diperhatikan kap nya seperti tempat sampah pasar, tiang tiangnya dihias dengan kain batik dan kain kotak kotak khas bali (corak papan catur). Pokoknya semuanya serba antik dan unik tapi tetap cantik. Meja kursi ditata cluster 6 seat bak kafe mahal. Di bagian depan dibuat stage setinggi 30 cm berukuran 8 x 4 meter.yang di kanan kirinya ada speaker besar setinggi hampir 3 meter. Di atas stage alat band lengkap siap digunakan.

Malam tahun baru yang lalu tanggal 31 Desember 2013, di tempat ini diselenggarakan  pamentasan band yang hanya memainkan lagu dari album BADAI PASTI BERLALU.

KIra kira pukul 9 malam, dengan penonton kira kira 100 orang acarapun dimulai. Lampu di ruangan tiba tiba redup....menyusul lampu kilat (blitz)  berkedip kecip di atas stage dengan tata suara yang sangat kuat terdengar sapaan " selamat datang di Komunitas Kajian Goedang Djadoel....acara akan segera dimulai....diiringi musik seperti luar angkasa..." wah mengingatkan theater 21 kalau mau memutar film.

Lampu di stage dibuat terang sementara di bagian penonton redup, pembawa acara tergopoh gopoh naik ke stage dan menyapa penonton dan membacakan acara yang bakal digelar., disusul sang "Presiden Republik Goedang Djadoel" menyapa selamat malam...dan pemain band naik satu demi satu...Para hadirin diminta berdiri untuk bersama sama menyanyikan lagu Padamu Negeri.

Setelah hening sejenak. terdengar intro lagu Pelangi langsung penyanyi utama membuka acara pagelaran Badai pasti Berlalu dengan lagu Pelangi...bagaikan langit berpelangi, terlukis wajah dalam mimpi....anganpun melayang jauh melintasi waktu samapi ke tahun 1977 yaitu waktu album itu dirilis dimana Eros Djarot Chrisye dan Yockie berkarya menyusul Film Badai Pasti Berlalu yang sukses di tahun 1976 (novel Marga T). Terbayang wajah Christine Hakim, Slamet Rahardjo pemeran utama film tersebut.

Lagu demi lagu mengalir lancar dengan aransemen original dan dibuat semirip mungkin, tapi sayang pernak pernik musiknya tidak sedetail aslinya. Yah...maklum pemain kebordnya cuma satu, sedang aslinya ada Yockie, yang juga dibantu Debbie Nasution dan Fariz RM. Setiap selesai satu lagu diberi ulasan oleh EH Karta Negara yang dibantu Wibi memberi ilustrasi bagaimana aransemen lagu lagu di album pasti berlalu dibuat baik proses maupun keterpengaruhan musiknya.

Tepat pukul 00 1 Januari 2014 tiba tiba back drop melipat begitu rupa dan berganti dengan Ucapan Selamat Datang Tahun 2014....diiringi kembang api dan petasan bersahutan. Kira kira lima menit berikutnya mengalun lagu Seraasa. Dan acara ditutup dengan lagu Badai Pasti Berlalu...yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin. Pertanyaannya Sudahkah Badai Berlalu setelah selama 36 tahun (sejak album itu dirilis) ?