Translate

Kamis, 25 Februari 2016

Delapan Tahun Tidak Jadi Karyawan

Sangat terasa betapa berat menjalani hidup sebagai manusia "bebas" setelah lebih dari 25 tahun menjadi karyawan perusahaan asing.

Delapan tahun sudah saya "berhasil" hidup tanpa gajian. Sumber income saya dari jualan online dan jualan kuliner. Sungguh sangat kontras hidup yang biasanya bergelimpangan dengan uang (easy money) harus hidup dengan mencari uang receh. Setiap hari otak ini harus dituntut untuk berkreasi untuk menghasilkan produk yang inovatif dan layak jual.

Hampir hampir saya tergoda untuk mengikatkan diri lagi dengan bekerja ke perusahaan yang memang masih mau memberi saya pekerjaan dengan upah atau gaji yang baik. Tapi saya tetap bertahan dan berusaha menjadi lebih baik di setiap menit yang saya lalui. Wirausaha atau bisnis sendiri memang mudah diucapkan, dan menjanjikan kebebasan financial sebagaimana digembar gemborkan oleh Robert T. Kyosaki atau versi Indonesianya si Tung Desem Wariangin, seolah oleh semuanya serba mudah...jreng...jadi orang kaya...!!!

Tulisan saya di atas bukan maksud mengeluh atau merasa gagal dalam pilihan hidup, tapi sedikit memberi gambaran betapa beratnya hidup tanpa penghasilan tetap dari gaji. Keuntungan hidup bebas seperti saya adalah:

1. Dekat dengan keluarga, terutama anak yang menjelang remaja.
2. Banyak waktu untuk beribadah
3. Karena setiap hari "ketakutan" tidak ada uang masuk, maka selalu berdoa (jadi dekat dengan Tuhan).
4. Tidak lagi berpikir konsumtif (ini prosesnya lama).
5. Selalu mensyukuri rejeki sekecil apapun (yang dulu waktu jadi karyawan hampir lupa untuk bersyukur)

Sungguh nilai nilai positif di atas sangat mahal harganya. Apalagi usia saya semakin merangkak mendekati kematian, sehingga hal hal yang bersifat spiritual akan menjadi REM agar hidup tidak gegabah ngeGAS terus dan zig-zag.

Semoga tulisan ini ada sedikit manfaat bagi orang yang ingin keluar dari pekerjaan dan berusaha sendiri. Jangan gegabah, syukuri bahwa anda punya pekerjaan dan gaji yang baik. kalaupun harus keluar dari pekerjaan, lakukan dengan baik persiapkan biaya hidup untuk waktu selama anda bisa lakukan.

Salam,

Jumat, 27 November 2015

Musik Indonesia Tahun 1970an

Pada tahun 1970 di negeri ini pernah berkibar beberapa band yang dengan bangganya menyanyikan lagu lagu karangan mereka sendiri. Kebanyakan band band tersebut beraliran pop atau sedikit rock and roll, mungkin karena pengaruh musik barat yang pada waktu itu memang sangat dominan.

Sebut saja Everly Brothers, The Beatles, The BeeGees dan masih banyak lagi. Mereka ini menginspirasi band lokal untuk membuat karya sendiri dan harminisasinya memang mirip band band luar negeri, hanya liriknya kebanyakan berbahas Indonesia.

Band band dalam negeri yang paling exksis diantaranya:
Koes Plus yang anggotanya bersaudara ditambah (Plus) "orang luar", sebelumnya bernama Koes Bersaudara (Jon, Tony, Yon, Nomo dan Yok), belakangan Jon dan Nomo keluar digantikan oleh Kasmuri (Murry - sebagai faktor PLUS). Selain group ini ada dari Surabaya AKA, dari Bandung Rollies, dari Medan The Mercys dan Panbers. Saya tidak akan membahas satu persatu group group band tersebut.

Yang juga menonjol group bersaudara lainnya adalah Panbers atau Panjaitan Bersaudara. Mereka terdiri dari abang adik (Benny, Doan, Hans dan Asido - Panjaitan). Tidak sengaja saya mendengarkan lagu Akhir Cinta (versi original), betapa kagetnya saya, ternyata Panbers membuat lagu yang bagus dengan intro yang ANEH. saya katakan aneh, karena mengalami modulasi yang tidak lazim tapi cukup manis. Intro yang manis ini justru dihilangkan di rekaman lagu yang sama versi versi berikutnya entah mengapa.

Inilah sedikit penelusuran saya pada lagu tersebut, mudah mudahan tidak terlalu keliru, karena saya hanya mengandalkan instink/ rasa yang saya tuangkan ke dalam chord gitar.



Akhir Cinta
(Panbers)
Intro:
D# F#m A# D#-D G
F-F#-G  F-F#-G

G                  Am
Awal dari cinta
     D7                  G 
Liku tanpa bahagia
                   Am
Sudah suratan
         D7                    G
Cintaku yang pertama


****
      G                 Am
Cinta tanpa kasih
       D7                   G
Tanpa akhir bahagia
      G                Am
Gagal dan punah
     D7                        G
Pada akhir cinta duka

Reff :
   G       Gaug-Em   
Aku gagal       kali  ini
D7                               G
Tanpa tangis dan duka
      C             G    Em
Hanya titik air mata
             Am         D7      G
Dan senyum kehancuran

back to : **, ****, Reff

      C             G    Em
Hanya titik air mata
             Am         D7      E
Dan senyum kehancuran...










Minggu, 27 September 2015

Kembali Ke Jakarta

Setelah enam tahun "mengungsi" ke kota kecil, akhirnya sejak Juli 2015 kami sekeluarga kembali lagi ke rumah di Jakarta.

Suasana tetangga agak berubah, karena beberapa penghuni baru yang membeli rumah tetangga lama kami. Yang jelas terjadi semacam regenerasi, penduduk lama yang tua diganti penduduk baru yang sekitar 10 tahun lebih muda.

Kalau dulu sewaktu kami tinggal di Jakarta (saya) bekerja di industri Migas dengan bayaran yang lumayan banyak, kini saya sudah tidak bekerja dimana mana sejak saya mengundurkan diri dari kantor lama sekitar 7 tahun yang lalu. Kegiatan pencarian nafkah saya sandarkan pada kekuatan sendiri dengan berjualan Bakmi...

Sejauh ini alhlamdulillah kehidupan kami tetap terjaga, dengan penghasilan berjualan Mie cukup untuk maintain hidup kami. Yang jelas keberadaan saya di keluarta bisa 100%, bandingkan dengan sewaktu saya aktif bekerja di Migas ----yang hanya 50%, itupun tidak efektif, karena kegiatan bekerja masih terbawa ke rumah.

Sebentar...saya harus melayani pembeli Mie dulu....

Rabu, 13 Mei 2015

Pemutar Piringan Hitam (Turntable) - Samsung

Pada suatu sore sekitar jam 15 WIB saya iseng iseng blusukan ke pasar Loak di kota Pekalongan. Pada waktu itu hari Jumat suasana pasar begitu ramai dan hiruk pikuk. Saya paksakan naik motor menyusuri lorong demi lorong. Tiba tiba mata terkunci melihat seorang pedagang sedang membersihkan piringan hitam. Tapi karena suasana sangat crowded saya tidak bisa berhenti, motor harus terus melumcur. Saya pun akhirnya berhenti karena ada tempat sedikit lowong, saya parkir motor saya di situ. Saya berjalan ke arah berlawanan mencari piringan hitam tadi. setelah berjalan sekitar 20 meter ketemu lapak piringan hitam tadi. Saya memberi salam kepada penjualnya dan berkenalan sambil ngobrol. Saya tanyakan apakah player piringan hitam di bawah ini masih berfungsi? dia jawab masih masih, ini saya baru bersihkan piringannya. Dengan cekatan dia memasang piringan hitam ke player yang sudah lusuh dan ga karuan wujudnya. Dengan tenangnya dia switch ON...piringan ga mau muter, dia bingung sambil mengotak atik stop kontak dan kabel powernya, tidak bisa. Iseng saya colek arah memutar piringan hitam...dan berputarlah piringan hitam. Dia senyum sambil memasang jarum ke piringan hitam....ces....krek krek...bunyi lagu tapi tidak jelas, terus dia tambahkan batu kecil di atas jarum untuk pemberat...dan bunyi mengalun lagu Hero witney Houston.

Sambil menikmati lagu saya amati player dengan membersihkan debu ingin melihat merknya. Wow ternyata merknya Sunny. Saya tahu ini merk SONY kw...! Tapi suaranya lumayan bagus. Hampir satu lagu saya terdian, Saya tanya : Pak apa masih punya player lain? dengan cepat dia bilang ada, merk Samsung (wah mendingan merknya dari pada Sunny batin saya). Diapun mengeluarkan player ukuran besar dengan rupa yang begitu dekil berdebu dan banyak rumah laba labanya. Dengan sabar saya lap sambil memperhatikan apakah fisiknya ada cacat. Ternyata fisiknya masih mulus, juga tutup akriliknya masih bening walaupun hanya saya lap pakai tangan sambil lalu. Saya tanya ini mau dijual berpa Pak? Dia nyahut sebenarnya saya tidak tahu kondisi barang ini. Sejak saya dapat dari tukang lowak.Kelihatannya sih tidak ada jarumnya.

Saya perhatikan ternyata ini jenis kompo yang terdiri dari Tape double deck, equaliser dan amplifier, radio 3 band dan palinga atas turntable. (gambar menyusul). Gimana Pak jadi berapa mau dijual. Singkat cerita setelah tawar menawar saya setuju membeli. Sampai di rumah Kompo tersebut saya bersihkan sampai mengkilap seperti baru. Saya senang lihat penampilannya hitam legam sangat elegan. Pelan pelan kabel power saya colok ke sumber listrik, saya switch ON PHnya diam saja, terus saya gerakkan tangkai jarumnya ke tengah PH dan...berputar. Saya coba nyalakan tape eh...jalan juga, radio juga bunyi, tapi lai gelombangnya putus. Ah...lumayan.

 Iseng iseng tempat jarum saya pasangi staples yang difungsikan sebagai jarum. Begitu jarum saya tempelkan ke PH yang sedang berputar...krek krek...bunya lagu Masachusete the Beegees. Betapa gembiranya saya, tapi karena jarumnya asal asalan bunyinya tidak jernih. Tinggal cari jarum yang bagus compo ini akan JOSS...! Saya ceritakan ini karena saya selama 40 tahun terobsesi ingin punya turntable, karena waktu kecil saya pernah melihat orang kaya menikmati musik dengan alat ini. Sejak saat itu saya memendam keinginan yang teramat sangat memiliki benda tersebut. Dan....akhirnya saya punya...he he he kasihan ya....!!!

Jumat, 16 Januari 2015

Menjelang Ujian Nasional

Generasi muda sekarang benar benar generasi yang aneh. Mereka banyak yang pintar, fisiknya pun bagus bagus dibanding generasi orang tua mereka. Pendidikan kita telah menghasilkan generasi instan. Saya sempat menguji matematika anak saya, betapa kagetnya saya, dia menyelesaikan soal soal matematika seperti menghafal artikel dan cara penyelesaian yang super cepat (seperti tidak berfikir). Yang lebih mengherankan lagi nilai hasil belajar mereka rata rata tinggi. bahkan nilai rata rata anak saya mencapai lebih dari 9. sungguh tidak pernah terbayangkan nilai ini pada zaman saya. Belum selesai keheranan saya dengan prestasi belajar anak anak sekarang saya dikagdtkan dengan kegiatan mereka dalam hal berdoa dan berusaha. Spsertinya berdoa dan berusaha adalah kegiatan yang mulia dan sangat religius. tapi apa yang sesungguhnya terjadi? Saat sekarang ini para pelajar sedang sibuk menyiapkan istigosah dalam rangka berdoa agar nanti dalam menempuh ujian nasional diberi kelancaran dan kemudahan. sungguh mulia bukan? Pada waktu bersamaan, mereka sekarang ini sedang mengumpulkan dana yang lumayan besar untuk saku pelajar untuk "membeli" kunci jawaban UN. Luar biasa...!!! Jadi kita selaku orang tua telah mewarisi watak MALING yang religius. Jadi sebelum maling harus berdoa dulu, biar malingnya lancar tidak ketahuan atau tertangkap polisi. Mencampur adukkan yang baik dan yang buruk pasti hasilnya buruk. Coba saja campurkan segelas teh manis dengan satu sendok arsenik...hasilnya mati...!!! Genereasi IRONIS seperti ini lahir dari sistem dan teladan dari generasi sebelumnya. artinya kita telah gagal membangun moral anak anak kita. kelak mereka akan menjadi pemimpin bangsa yang seperti apa???

Jumat, 07 Februari 2014

Murry Koes Plus , Satu Lagi Legenda Musik Indonesia Meninggalkan Kita

Walaupun agak terlambat tapi saya tulis juga...

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun..Murry - drummer Koes Plus meninggal dunia 1 Februari 2014. Kematian ini bagi pecinta Koesplus khususnya JN Pekalongan sangat mengagetkan. Betapa tidak? Tiga hari sebelum meninggal Murry ditemani dua anaknya Anggi dan Rico berkunjung ke Pekalongan untuk konser dan menemui penggemar Koesplus yang diwadahi dalam Jiwa Nusantara cabang Pekalongan.
Penampilan sang legenda tiga hari sebelum meninggal

Selama di Pekalongan Murry sebetulnya sangat ingin berjumpa dengan Komunitas Goedang Djadoel yaitu komunitas kajian dan budaya di Pekalongan. Karena Murry sangat terkesan dengan Goedang Djadoel yang selama ini telah sukses menyelenggarakan pementasan Musik maupun Budaya, yang melibatkan Bpk. Taufik Ismail, Anis Baswedan, Hakam Naja, Inne Febriyanti. Sayangnya Murry harus kecewa, karena dari pihak pengundang tidak mengijinkan Murry untuk menemui penggemarnya di tempat lain (Goedang Djadoel) INFO INI TELAH DIKLARIFIKASI OLEH PIHAK PENYELENGGARA BAHWA PIHAK MURRY YANG TIDAK MAU DATANG KECUALI KE TEMPAT DIMANA DIA DIUNDANG - KARENA USIA LANJUT DAN TAKUT KELELAHAN APABILA MENGISI ACARA TERLALU BANYAK DALAM SATU HARI.


Sedikit infio tentang Goedang Djadoel.

Goedang Djadoel juga pernah mementaskan lagu lagu Koesplus dengan mengusung tema Go-Green pada waktu hari Bumi Sedunia, dimana dalam pementasan tersebut beberapa band dari Semarang, Pemalang, Tegal, dan tentu saja dari Kota dan Kabupaten Pekalogan. Semua band ini diwajibkan membawakan lagu lagu Koesplus yang bertema Alam, seperti lagu Desaku, Padang Luas, HUujan Angin, Kolam susu, Nusantara dll. Dalam pembicaraan seminggu sebelum ke Pekalongan Murry sangat senang diundang ke Goedang Djadioel dan merasa "dihormati" karena di tempat ini juga pernah diadakan pementasan "Mengenang Tony Koeswoyo" sahabat beliau. Bahkan akhirnya Goedang Djadoel bernencana mementasakan kembali acara Mengenang Tony Koeswoyo ini dengan mengundang Murry, Yok dan Yon bersama sama tanggal 27 Maret 2014. .Rencana tinggallah rencana, tapi Allah berkehendak lain.
Selamat Jalan Bapk Murry, semoga engkau diberi tempat terbaik disisi sang Maha Pencipta.

salam,

Rabu, 05 Februari 2014

Pahama Group (Vocal Group Terbaik Sepanjang Masa)

Pada dekade 70-an, sebagian besar remaja Indonesia tengah keranjingan membentuk vokal grup. Demam vokal grup melanda siswa SMP dan SMA. Berbagai ajang festival vokal group akhirnya diadakan di berbagai tempat. Tembang-tembang yang dibawakan biasanya adalah lagu-lagu tradisional maupun lagu rakyat atau yang kerap disebut folk song.
Kecenderungan rata-rata vokal grup yang ada saat itu terletak pada tata aransemen vokal yang senantiasa dibuat complicated dan sarat pernah pernik. Hingga terkadang melodi orisinal dari lagu yang dibawakan menjadi sulit untuk dikenali lagi.
Saat itu grup-grup vokal jazz seperti The Manhattan Transfer hingga Sergio Mendes menjadi acuan dalam sederet kegiatan vokal grup. Tak jarang pula yang menyelusupkan perangai musik Latin, seperti yang ditorehkan kelompok Bimbo.
Harmoni vokal akhirnya menjadi bahagian terpenting dalam vokal group. Pecahan-pecahan nada pun menjadi tuntutan untuk sebuah vokal grup yang berkualitas. Selain Bimbo, saat itu pun dikenal pula kelompok vokal yang cenderung nge-jazz, seperti Noor Bersaudara.

Pahama di Jazz Goes To Campus Universitas Indonesia
Bintang radio & TV
Lantaran begitu menjamurnya kegiatan vokal grup yang berlangsung dari Sabang hingga Merauke, akhirnya muncullah sebuah ajang yang kemudian memasukkan vokal grup sebagai salah satu bagian dari ajang kompetisi vokal.
Pada tahun 1976, untuk kali pertama digelar ajang kompetisi bertajuk Bintang Radio dan Televisi Remaja. Konon, acara ini diadakan untuk lebih menjaring bakat-bakat seni suara dari kalangan anak remaja. Pada akhirnya ajang Bintang Radio & Televisi Remaja 1976 ini memang berhasil menjala sosok penyanyi yang kelak menjadi bagian terpenting dalam konstelasi musik pop di negeri tercinta ini.
Lalu mencuatlah Harvey Malaiholo sebagai Juara 1 Remaja Pria, Rafika Duri sebagai Juara 1 Remaja Wanita, dan Pahama sebagai Juara 1 Vokal Grup. Pahama yang berasal dari Bandung memang pantas didapuk menjadi juara 1. Mereka menyimpan kualitas musik yang lebih dibanding para kontestan lainnya. Arransemen dan harmoni vokal Pahama memang terasa lebih kontekstual dan wajar. Tidak mengada ada.
Dalam Bintang Radio & TV Remaja itu, Pahama yang terdiri dari Raymond Patirane, Denny Hatami, Bram Manusama, dan I Ketut Riwin, membawakan lagu Pergi untuk Kembali karya Minggoes Tahitu, yang berhasil menjadi Juara 1 Festival Lagu Pop Indonesia 1975, dan sebuah lagu rakyat Maluku bertajuk Waktu Hujan Sore-sore.
Penampilan Pahama yang segar, santai, dan seolah tanpa beban berhasil memukau khalayak. Kekompakan dalam mengolah vokal adalah modal utama kelompok yang pemusiknya terdiri dari beragam suku bangsa, seperti Maluku, Sunda, dan Bali.
Menjamur
Kelompok Pahama dibentuk tahun 1975, di saat Bandung tengah diriuhkan dengan menjamurnya kelompok-kelompok vokal, seperti Double SB, GPL Unpad, Stairway, Mythos, Kharisma Vokal Group, Nobo, dan yang telah mencuat sejak akhir era 1960-an, Bimbo.
Jika Pahama cepat melejit dan dikenal luas, tak perlu diherankan. Mungkin, karena kelompok ini didukung sederet pemusik yang kreatif dan penuh bakat. Raymond Pattirane, misalnya, memang dibesarkan dari keluarga pemusik. John Pattirane, sang ayah, merupakan sosok yang membina dan mengarahkan tata musik, terutama harmonisasi vokal kelompok Bimbo.
Kekerabatan antara Pahama dan Bimbo pun kian erat. Apalagi, ketika Pahama berhasil menjuarai Bintang Radio & TV Remaja bidang Vokal Group, Bimbo telah mengamati secara seksama sepak terjang Pahama. Pada akhirnya Bimbo pun bersedia menggarap produksi album perdana Pahama pada tahun 1977 melalui label Bimbo Recording System. Jaka Harjakusumah dari Bimbo terlibat sebagai penggarap tata musik Pahama. Jaka pun ikut menyumbangkan lagu Nelayan Tua untuk album Pahama.
Di album ini, selain menulis lagu-lagu sendiri, seperti Dari Judul (Denny Hatami),Cinta dan Bahagia (Bram Manusama), dan Oplet Dago (Raymond Patirane), Pahama pun menyanyikan kembali hit karya Minggoes Tahitu yang dipopulerkan Melky Goeslaw pada tahun 1975, Pergi Untuk Kembali, di samping lagu-lagu rakyat, semisal Waktu Hujan Sore-sore.
Karya sendiri
Setahun berselang Pahama merilis album keduanya di Musica Studio, mereka tetap membawakan lagu karya sendiri dan lagu-lagu rakyat. Untuk pertamakali di album keduanya, Pahama menambah formasinya dengan seorang penyanyi wanita bernama Dianne Carruthers yang berasal dari Australia. Dianne merupakan kekasih dari Bram Manusama. Keduanya, Bram dan Dianne, bahkan sempat merilis sebuah album duet yang menyanyikan lagu-lagu karya Jimmie Manoppo, Oetje F Tekol, dan Yance Manusama.
Di tahun 1978, Bram dan Dianne diajak oleh Chris Manuel Manusama, abang Bram yang pernah mendukung grup rock, Tripod dan Hookerman, untuk menyanyikan lagu ciptaannya, Kidung, yang berhasil masuk 10 besar dalam ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1978.
Di awal 1980-an, pasangan Bram Manusama dan Dianne Carruthers yang telah resmi menikah sebagai sepasang suami-isteri mengundurkan diri dari Pahama. Mereka lalu bermukim di negeri Kangguru. Kemudian Pahama sering berkolaborasi dengan mantan Puteri Indonesia, Tika Bisono, baik di panggung pertunjukan maupun rekaman.
Satu persatu personel Pahama mulai mundur, seperti gitaris, Ketut Riwin, yang memilih tinggal di Bali. Riwin mengelola sebuah kafe di Legian Bali. Sejak itulah nama Pahama secara perlahan mulai meredup dan menghilang. Pahama sempat tampil bersama Tika Bisono dalam album kemanusiaan bertajuk Suara Persaudaraan (1986) yang digagas komposer James F Sundah.
Raymond Patirane tetap menggeluti musik sebagai guru vokal dan penata vokal di berbagai album rekaman. Ketut Riwin pun tetap bermain musik. Riwin yang nama lengkapnya IGN Ketut Riwiyana, membentuk sebuah grup jazz dengan latar etnik bernama Tropical Transit pada tahun 1991. Kelompok ini masih tetap aktif manggung. Bahkan, salah satu karya Riwin dipakai dalam proyek kolaborasinya dengan perancang busana Ika Mardiana dan penari, I Nyoman Sura, pada event Hong Kong Fashion Week 2006 yang bertemakan Java
DISKOGRAFI
1. Pahama Vol 1 (Bimbo Recording System 1977)
2.Pahama Vol 2 (PT Musica Studios 1978)
Album Duet
1.Bram & Dianne, Kisah (PT Musica Studios 1979)
2.Denny Hatami & Tika Bisono, Engkau Cintaku (Paragon Record 1983)
Album Kompilasi
1.Dasa Tembang Tercantik LCLR 1978 (Duba Records 1978)
2.Dasa Tembang Tercantik LCLR 1979 (Duba Records 1979)
3.Dasa Tembang Tercantik LCLR 1981 (Lolypop Record 1981)
4.Suara Persaudaraan (Aquarius 1986)
Tulisan ini dimuatdi Harian Republika Senin, 06 Agustus 2007


Yang paling saya suka adalah album ini:

Pahama Group - Vol 2


01 Adakah Cintamu
02 Entah Kapan
03 Tukang Copet
04 Senandung
05 Dibalik Selaput Harapan
06 Lagu Lagu Rakyat
07 Hilang Dan Tiada
08 Sang Kelana
09 Soino
10 Dia Lebih Baik
11 Narapidana
12 Keinginan
13 Jangan Lupakan
14 Malu Dan Terhina
15 Manusia
16 Wanita
17 Angin Laut
18 Sesal Akan Dosa

Kalau anda ingin download lagunya komplit dalam format mp3@320Kbps dan dikompres dalam file winrar, silakan download disini:

Vol-1 : http://www.mediafire.com/?r89dapjc5b92t3j
Vol-2 : http://www.mediafire.com/?71raci8w4tfp6o5