Translate

Jumat, 27 November 2015

Musik Indonesia Tahun 1970an

Pada tahun 1970 di negeri ini pernah berkibar beberapa band yang dengan bangganya menyanyikan lagu lagu karangan mereka sendiri. Kebanyakan band band tersebut beraliran pop atau sedikit rock and roll, mungkin karena pengaruh musik barat yang pada waktu itu memang sangat dominan.

Sebut saja Everly Brothers, The Beatles, The BeeGees dan masih banyak lagi. Mereka ini menginspirasi band lokal untuk membuat karya sendiri dan harminisasinya memang mirip band band luar negeri, hanya liriknya kebanyakan berbahas Indonesia.

Band band dalam negeri yang paling exksis diantaranya:
Koes Plus yang anggotanya bersaudara ditambah (Plus) "orang luar", sebelumnya bernama Koes Bersaudara (Jon, Tony, Yon, Nomo dan Yok), belakangan Jon dan Nomo keluar digantikan oleh Kasmuri (Murry - sebagai faktor PLUS). Selain group ini ada dari Surabaya AKA, dari Bandung Rollies, dari Medan The Mercys dan Panbers. Saya tidak akan membahas satu persatu group group band tersebut.

Yang juga menonjol group bersaudara lainnya adalah Panbers atau Panjaitan Bersaudara. Mereka terdiri dari abang adik (Benny, Doan, Hans dan Asido - Panjaitan). Tidak sengaja saya mendengarkan lagu Akhir Cinta (versi original), betapa kagetnya saya, ternyata Panbers membuat lagu yang bagus dengan intro yang ANEH. saya katakan aneh, karena mengalami modulasi yang tidak lazim tapi cukup manis. Intro yang manis ini justru dihilangkan di rekaman lagu yang sama versi versi berikutnya entah mengapa.

Inilah sedikit penelusuran saya pada lagu tersebut, mudah mudahan tidak terlalu keliru, karena saya hanya mengandalkan instink/ rasa yang saya tuangkan ke dalam chord gitar.



Akhir Cinta
(Panbers)
Intro:
D# F#m A# D#-D G
F-F#-G  F-F#-G

G                  Am
Awal dari cinta
     D7                  G 
Liku tanpa bahagia
                   Am
Sudah suratan
         D7                    G
Cintaku yang pertama


****
      G                 Am
Cinta tanpa kasih
       D7                   G
Tanpa akhir bahagia
      G                Am
Gagal dan punah
     D7                        G
Pada akhir cinta duka

Reff :
   G       Gaug-Em   
Aku gagal       kali  ini
D7                               G
Tanpa tangis dan duka
      C             G    Em
Hanya titik air mata
             Am         D7      G
Dan senyum kehancuran

back to : **, ****, Reff

      C             G    Em
Hanya titik air mata
             Am         D7      E
Dan senyum kehancuran...










Minggu, 27 September 2015

Kembali Ke Jakarta

Setelah enam tahun "mengungsi" ke kota kecil, akhirnya sejak Juli 2015 kami sekeluarga kembali lagi ke rumah di Jakarta.

Suasana tetangga agak berubah, karena beberapa penghuni baru yang membeli rumah tetangga lama kami. Yang jelas terjadi semacam regenerasi, penduduk lama yang tua diganti penduduk baru yang sekitar 10 tahun lebih muda.

Kalau dulu sewaktu kami tinggal di Jakarta (saya) bekerja di industri Migas dengan bayaran yang lumayan banyak, kini saya sudah tidak bekerja dimana mana sejak saya mengundurkan diri dari kantor lama sekitar 7 tahun yang lalu. Kegiatan pencarian nafkah saya sandarkan pada kekuatan sendiri dengan berjualan Bakmi...

Sejauh ini alhlamdulillah kehidupan kami tetap terjaga, dengan penghasilan berjualan Mie cukup untuk maintain hidup kami. Yang jelas keberadaan saya di keluarta bisa 100%, bandingkan dengan sewaktu saya aktif bekerja di Migas ----yang hanya 50%, itupun tidak efektif, karena kegiatan bekerja masih terbawa ke rumah.

Sebentar...saya harus melayani pembeli Mie dulu....

Rabu, 13 Mei 2015

Pemutar Piringan Hitam (Turntable) - Samsung

Pada suatu sore sekitar jam 15 WIB saya iseng iseng blusukan ke pasar Loak di kota Pekalongan. Pada waktu itu hari Jumat suasana pasar begitu ramai dan hiruk pikuk. Saya paksakan naik motor menyusuri lorong demi lorong. Tiba tiba mata terkunci melihat seorang pedagang sedang membersihkan piringan hitam. Tapi karena suasana sangat crowded saya tidak bisa berhenti, motor harus terus melumcur. Saya pun akhirnya berhenti karena ada tempat sedikit lowong, saya parkir motor saya di situ. Saya berjalan ke arah berlawanan mencari piringan hitam tadi. setelah berjalan sekitar 20 meter ketemu lapak piringan hitam tadi. Saya memberi salam kepada penjualnya dan berkenalan sambil ngobrol. Saya tanyakan apakah player piringan hitam di bawah ini masih berfungsi? dia jawab masih masih, ini saya baru bersihkan piringannya. Dengan cekatan dia memasang piringan hitam ke player yang sudah lusuh dan ga karuan wujudnya. Dengan tenangnya dia switch ON...piringan ga mau muter, dia bingung sambil mengotak atik stop kontak dan kabel powernya, tidak bisa. Iseng saya colek arah memutar piringan hitam...dan berputarlah piringan hitam. Dia senyum sambil memasang jarum ke piringan hitam....ces....krek krek...bunyi lagu tapi tidak jelas, terus dia tambahkan batu kecil di atas jarum untuk pemberat...dan bunyi mengalun lagu Hero witney Houston.

Sambil menikmati lagu saya amati player dengan membersihkan debu ingin melihat merknya. Wow ternyata merknya Sunny. Saya tahu ini merk SONY kw...! Tapi suaranya lumayan bagus. Hampir satu lagu saya terdian, Saya tanya : Pak apa masih punya player lain? dengan cepat dia bilang ada, merk Samsung (wah mendingan merknya dari pada Sunny batin saya). Diapun mengeluarkan player ukuran besar dengan rupa yang begitu dekil berdebu dan banyak rumah laba labanya. Dengan sabar saya lap sambil memperhatikan apakah fisiknya ada cacat. Ternyata fisiknya masih mulus, juga tutup akriliknya masih bening walaupun hanya saya lap pakai tangan sambil lalu. Saya tanya ini mau dijual berpa Pak? Dia nyahut sebenarnya saya tidak tahu kondisi barang ini. Sejak saya dapat dari tukang lowak.Kelihatannya sih tidak ada jarumnya.

Saya perhatikan ternyata ini jenis kompo yang terdiri dari Tape double deck, equaliser dan amplifier, radio 3 band dan palinga atas turntable. (gambar menyusul). Gimana Pak jadi berapa mau dijual. Singkat cerita setelah tawar menawar saya setuju membeli. Sampai di rumah Kompo tersebut saya bersihkan sampai mengkilap seperti baru. Saya senang lihat penampilannya hitam legam sangat elegan. Pelan pelan kabel power saya colok ke sumber listrik, saya switch ON PHnya diam saja, terus saya gerakkan tangkai jarumnya ke tengah PH dan...berputar. Saya coba nyalakan tape eh...jalan juga, radio juga bunyi, tapi lai gelombangnya putus. Ah...lumayan.

 Iseng iseng tempat jarum saya pasangi staples yang difungsikan sebagai jarum. Begitu jarum saya tempelkan ke PH yang sedang berputar...krek krek...bunya lagu Masachusete the Beegees. Betapa gembiranya saya, tapi karena jarumnya asal asalan bunyinya tidak jernih. Tinggal cari jarum yang bagus compo ini akan JOSS...! Saya ceritakan ini karena saya selama 40 tahun terobsesi ingin punya turntable, karena waktu kecil saya pernah melihat orang kaya menikmati musik dengan alat ini. Sejak saat itu saya memendam keinginan yang teramat sangat memiliki benda tersebut. Dan....akhirnya saya punya...he he he kasihan ya....!!!

Jumat, 16 Januari 2015

Menjelang Ujian Nasional

Generasi muda sekarang benar benar generasi yang aneh. Mereka banyak yang pintar, fisiknya pun bagus bagus dibanding generasi orang tua mereka. Pendidikan kita telah menghasilkan generasi instan. Saya sempat menguji matematika anak saya, betapa kagetnya saya, dia menyelesaikan soal soal matematika seperti menghafal artikel dan cara penyelesaian yang super cepat (seperti tidak berfikir). Yang lebih mengherankan lagi nilai hasil belajar mereka rata rata tinggi. bahkan nilai rata rata anak saya mencapai lebih dari 9. sungguh tidak pernah terbayangkan nilai ini pada zaman saya. Belum selesai keheranan saya dengan prestasi belajar anak anak sekarang saya dikagdtkan dengan kegiatan mereka dalam hal berdoa dan berusaha. Spsertinya berdoa dan berusaha adalah kegiatan yang mulia dan sangat religius. tapi apa yang sesungguhnya terjadi? Saat sekarang ini para pelajar sedang sibuk menyiapkan istigosah dalam rangka berdoa agar nanti dalam menempuh ujian nasional diberi kelancaran dan kemudahan. sungguh mulia bukan? Pada waktu bersamaan, mereka sekarang ini sedang mengumpulkan dana yang lumayan besar untuk saku pelajar untuk "membeli" kunci jawaban UN. Luar biasa...!!! Jadi kita selaku orang tua telah mewarisi watak MALING yang religius. Jadi sebelum maling harus berdoa dulu, biar malingnya lancar tidak ketahuan atau tertangkap polisi. Mencampur adukkan yang baik dan yang buruk pasti hasilnya buruk. Coba saja campurkan segelas teh manis dengan satu sendok arsenik...hasilnya mati...!!! Genereasi IRONIS seperti ini lahir dari sistem dan teladan dari generasi sebelumnya. artinya kita telah gagal membangun moral anak anak kita. kelak mereka akan menjadi pemimpin bangsa yang seperti apa???