Di Pekalongan ada tempat bekas pranggok (untuk proses pembuatan batik) kira kira berukuran lebar 8 x 20 meter persegi, yang di sulap bak Cafe yang unik dan cantik. Di beberapa tembok dihiasi dengan gitar gitar yang digantung, Roda pedati kuno, Bass akusti besar tinggi 2 meter dan beberapa foto orang orang yang pernah main di tempat itu.
Saya melihat ada foto Pak Taufik Ismail, Yok Koeswoyo, Inne Febrianti, Anis Baswedan dan beberapa yang lain tergantung di sisi tembok. Ada juga sisi tembok yang rerkelupas dan berlobang dibiarkan dengan batu bata yang ekspos apa adanya. Di bagian atas dipasang lampu lampu yang diberi kap dari anyaman bambu..kalau diperhatikan kap nya seperti tempat sampah pasar, tiang tiangnya dihias dengan kain batik dan kain kotak kotak khas bali (corak papan catur). Pokoknya semuanya serba antik dan unik tapi tetap cantik. Meja kursi ditata cluster 6 seat bak kafe mahal. Di bagian depan dibuat stage setinggi 30 cm berukuran 8 x 4 meter.yang di kanan kirinya ada speaker besar setinggi hampir 3 meter. Di atas stage alat band lengkap siap digunakan.
Malam tahun baru yang lalu tanggal 31 Desember 2013, di tempat ini diselenggarakan pamentasan band yang hanya memainkan lagu dari album BADAI PASTI BERLALU.
KIra kira pukul 9 malam, dengan penonton kira kira 100 orang acarapun dimulai. Lampu di ruangan tiba tiba redup....menyusul lampu kilat (blitz) berkedip kecip di atas stage dengan tata suara yang sangat kuat terdengar sapaan " selamat datang di Komunitas Kajian Goedang Djadoel....acara akan segera dimulai....diiringi musik seperti luar angkasa..." wah mengingatkan theater 21 kalau mau memutar film.
Lampu di stage dibuat terang sementara di bagian penonton redup, pembawa acara tergopoh gopoh naik ke stage dan menyapa penonton dan membacakan acara yang bakal digelar., disusul sang "Presiden Republik Goedang Djadoel" menyapa selamat malam...dan pemain band naik satu demi satu...Para hadirin diminta berdiri untuk bersama sama menyanyikan lagu Padamu Negeri.
Setelah hening sejenak. terdengar intro lagu Pelangi langsung penyanyi utama membuka acara pagelaran Badai pasti Berlalu dengan lagu Pelangi...bagaikan langit berpelangi, terlukis wajah dalam mimpi....anganpun melayang jauh melintasi waktu samapi ke tahun 1977 yaitu waktu album itu dirilis dimana Eros Djarot Chrisye dan Yockie berkarya menyusul Film Badai Pasti Berlalu yang sukses di tahun 1976 (novel Marga T). Terbayang wajah Christine Hakim, Slamet Rahardjo pemeran utama film tersebut.
Lagu demi lagu mengalir lancar dengan aransemen original dan dibuat semirip mungkin, tapi sayang pernak pernik musiknya tidak sedetail aslinya. Yah...maklum pemain kebordnya cuma satu, sedang aslinya ada Yockie, yang juga dibantu Debbie Nasution dan Fariz RM. Setiap selesai satu lagu diberi ulasan oleh EH Karta Negara yang dibantu Wibi memberi ilustrasi bagaimana aransemen lagu lagu di album pasti berlalu dibuat baik proses maupun keterpengaruhan musiknya.
Tepat pukul 00 1 Januari 2014 tiba tiba back drop melipat begitu rupa dan berganti dengan Ucapan Selamat Datang Tahun 2014....diiringi kembang api dan petasan bersahutan. Kira kira lima menit berikutnya mengalun lagu Seraasa. Dan acara ditutup dengan lagu Badai Pasti Berlalu...yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin. Pertanyaannya Sudahkah Badai Berlalu setelah selama 36 tahun (sejak album itu dirilis) ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar