Beberapa waktu yang lalu Agustus 2013 saya kedatangan teman lama teman semasa kami di SD dan SMP Islam (th 1975 - terakhir bertemu).
Sudah sekitar 38 tahun kami tidak pernah bertemu, karena saya merantau ke Bandung, Jakarta, Aceh, Bengkulu, Palembang, P Jawa, Bali, Lombok, Timor, Maluku, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Utara, Tengah, Irian Jaya dari Merauke, Jayapura, Biak Sorong, Fak fak, Timika, Kaimana, Teluk Bintuni dll. Dan pernah bertugas ke Singapore, Malaysia, Thailand, Hongkong, Saudi Arabia, Inggris, Jerman, Belanda, Belgia, Perancis, Cina, Korea dan Rusia...wow ternyata jauh juga blusukan saya sewaktu bekerja di Industri Telkom dan MIGAS.
Tiga tahun terakhir ini saya justru tinggal di kota kecil tempat kelahiran saya, untuk sekedar mengenang masa kanak kanak saya dan merasakan "atmosfir" masa masa bersama Ayah dan Ibu yang seudah puluhan tahun yang lalu telah dipanggil Tuhan. Kalau tidak ada aral melintang kami akan pindah lagi ke Jakarta tahun depan. (2015?). Di kota inilah saya bertemu teman lama yang kebetulan nama kami sama..!!!
Dulu di sekolah setiap nama kami dipanggil guru kami saling nengok..siapa yang dipanggil? Mungkin karena nama kami sama kami jadi akrab. Sewaktu kami bertemu kami bercerita masa masa sekolah, kemudian pengalaman masing masing selama hidup berpisah.
Entah siapa yang memulai, obrolan kami nyangkut ke masalah agama khususnya sejarah para sahabat nabi.. Dengan semangat teman saya bercerita tentang kehebatan sahabat nabi Ali bin Abithalib. Saya mendengarkan dengan seksama penuh kagum. Demi melihat saya yang diam dan kelihatan tidak tahu apa apa tentang ini dia semakin berani... mulailah dia mengecam dan menjelek jelekkan sahabat nabi lainnya Abubakar, Umar bin Khattab dan Usman bin Affan sambil mengangkat Ali bin Abi Tholib setinggi langit. Saya sela dengan sopan, " jangan jelek jelekkan sahabat nabilah...mereka kan pejuang Islam"
Eh...dia malah semakin menggila. Apa mereka ini kan cuma sahabat, manusia yang bisa salah...!!! saya jawab betul bisa saja salah, tapi tidak untuk diejek seperti yang kamu lakukan. Ali yang kamu puji puji juga kan manusia biasa, anak seorang kafir Qurays Abu Thalib yang mengurus nabi Muhammad tapi tidak mau berislam...!!! Mulai dia marah... stop ga usah ngomongin ini deh, kita kan sedang temu kangen kok jadi kayak berantem.
Lalu dia mengendur tapi masih ingin ngomongin sejarah yang tadi. Saya sela hey...sejak kapan kamu suka sejarah, dulu kamu benci sejarah, bahkan nilai sejarahmu ga pernah melewati angka 5. Ya itu dulu, sekarang saya baru sadar bahwa sejarah itu penting. Saya jawab sekenanya, sejarah itu tergantung siapa yang menyampaikan. Hampir tidak ada sejarah yang benar benar murni tidak berpihak atau tidak punya kepentingan. Dia jawab, makanya belajar dari sumber yang bisa dipercaya. Ayo ikut ke pengajian dan sekaligus meluruskan sejarah Islam di tempatku. Saya jawab di mana? - di ustadz Mr.X ...busyeeet diakan tokoh syiah? Loh kenapa emang kalau syiah? kan sama sama Islam...!!! Saya jawab siapa bilang syiah itu Islam? Wah dia marah marah....sambil menantang..buktikan kalau syiah itu bukan Islam. Saya jawab OK tapi kamu juga buktikan kalau syiah itu Islam...!!!
Pembicaraan terputus karena anak istri saya datang dari sekolah....he he he silaturahmi kami jadi ajang ngomel.... saya pikir pikir malu rasanya bertemu teman lama, bukannya beramah tamah menyambung tali silaturhmi malah seperti menemukan musuh baru.
Sudah 3 bulan teman saya yang katanya senang bisa menyambung silaturahim lagi - tidak pernah menghubungi atau ngajak bertemu. Saya berpikir mungkin teman saya tadi sudah pindah agama...!